Narasi Feodalisme dalam Gadis Pantai

20180503_1045081.jpg

Judul: Gadis Pantai
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun, cetakan: 2015, Cetakan 11
Deskripsi fisik: 280 halaman
ISBN: 978-979-97312-0-3

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini.. Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.” –Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006) adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Lahir di Blora, Jawa Tengah. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di penjara. Gadis Pantai adalah salah satu karya awal Pram, yang ditulis dari 1963 hingga 1965, sesaat sebelum Pram dipenjara di Pulau Buru. Gadis Pantai adalah roman yang tidak selesai. Sejatinya, roman ini merupakan sekuel pertama dari sebuah trilogi. Namun, dua buku lanjutannya tak dapat diselamatkan.

Tidak seperti halnya Bumi Manusia, Gadis Pantai merupakan novel yang pendekatannya personal. Kanvasnya lebih sempit dan terfokus pada gadis dari kampung nelayan yang pada umur 14 tahun harus berpisah dengan orang tua dan lautan yang telah menemaninya tumbuh sepanjang hidup. Kenyataan yang menghenyakkan ketika pembaca menyadari hak Gadis Pantai terampas, dia hanyalah gundik, yang setelah melahirkan akan dibuang dan ditinggalkan untuk wanita lain.

Gadis Pantai yang berdasar pada kehidupan nenek penulis merupakan karya yang sentimental, dalam prolog dituliskannya:

“Inilah tebusan janjiku. Pada dia yang tak pernah ceritakan sejarah diri. Dia yang tak pernah kuketahui namanya. Maka cerita ini kubangun dari berita orang lain, dari yang dapat kusaksikan, kukhayalkan, kutuangkan.”

Protagonis yang dalam narasi tak pernah disebut namanya adalah seorang pribadi yang gigih dan teguh pendiriannya. Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Rembang, Jawa Tengah. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat, Bendoro; seorang yang bekerja pada administrasi Belanda. Dia diambil sebagai gundik dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani kebutuhan seks pembesar sampai kemudian pembesar tersebut menemukan perempuan aristokrat yang tepat untuk menjadi istrinya. Cerita dimulai dengan Gadis Pantai dipisahkan dari keluarga dan menetap di rumah mewah Bendoro. Rumahnya luas, dengan lorong-lorong dan banyak ruangan misterius, serta pelayan dimana-mana. Namun, tak ada orang yang dapat diajak mengobrol, kecuali si mBok, asisten pribadinya. Bendoro memperlakukan dia seperti mainan; saudaranya memperlakukan dengan dengki; pelayan menaruh belas kasihan karena mereka tau nasib sudah terpatri. Walau demikian, Gadis Pantai tetap mampu beradaptasi dalam rumah Bendoro, mampu mengatur rumah tangga dan disaat yang bersamaan tetap memegang teguh nilai-nilai yang tertanam dari kampungnya.

Disatu kesempatan, Gadis Pantai kembali ke kampung nelayan untuk berkunjung. Perkawinan tersebut ternyata telah memberi prestise baginya di kampung halaman–ia menjadi legenda setempat sampai-sampai ada lagu tentangnya. Di titik itu pula, Gadis Pantai menyadari keadaan telah berubah, orang tuanya tidak memperlakukannya seperti anak sendiri; tidak ada bedanya dari pelayan-pelayan suaminya. Sesaat setelah itu, terjadilah pengkhianatan yang dilakukan seorang pelayan yang ternyata adalah kaki tangan seorang aristokrat yang ingin menjadi istri utama Bendoro. Para penduduk desa lalu melawan bajak laut bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Gadis Pantai, lalu memaksa pelayan pengkhianat menikah dengan seorang penduduk desa, atau dia akan dibunuh. Pada akhirnya, situasipun memang sudah berubah. Sesaat setelah melahirkan, Bendoro mengusir Gadis Pantai dan menahan bayinya, mencegah Gadis Pantai untuk menemui bayinya ataupun menghubungi dia sampai kapanpun. Berbagai perlawanan yang dilakukan tak berbuah, malah menyisakan getah pahit–ia teraniaya secara fisik dan diusir pulang. Dengan bapaknya, Gadis Pantai jalan pulang ke kampung halaman, hatinya gundah, pahit dan getir menatap hidup. Pada akhirnya, Gadis Pantai memutuskan tak pulang ke kampung halaman. Ia mencari jalan sendiri tanpa ekspektasi terhadap masa depan, mengingat satu-satunya jalan yang sudah ia lalui dan serahkan sepenuh asa, seluruh hidupnya, ternyata buntu.

Pram mengemas cerita ini dengan narasi yang sederhana dan lugas. Ia menceritakan kebrutalan sejarah Indonesia pada jaman penjajahan Belanda, awal abad ke-20 –pembangunan jalan di pulau Jawa, dimana kebanyakan bayi-bayi para buruh meninggal; Bendoro yang munafik, berdoa beberapa kali sepanjang hari, mengaji, namun memperlakukan pelayan dan gundik seperti binatang yang derajatnya lebih rendah.

Sebagai penulis yang membawa tema-tema berdasar pada bentuk realisme sosialis, Pram dengan baik membongkar dan memperlihatkan kontradiksi praktek feodalisme Jawa dan realita sosial di Jawa. Gadis Pantai menunjukan cerita yang universal, seorang individu yang menjadi korban dari orang-orang yang berkuasa dan perjuangannya untuk bertahan.

Gadis Pantai adalah awal yang baik untuk mengenal karya-karya Pramoedya, seorang sastrawan yang tak pernah berkompromi dan teguh memegang nilai serta menjadi simbol perlawanan terhadap tirani.

 

-Putu Sridiniari

Advertisements

Book Review: Kafka on the Shore by Haruki Murakami

This review is part of book swap project. Thanks IndraTania for the book.

 

  • Country of origin: Japan
  • Author Haruki Murakami
  • Originally published: 2002
  • Author: Haruki Murakami
  • Cover design: Left: John Gall, Right: Chip Kidd
  • Characters: Kafka Tamura, Miss Saeki, Satoru Nakata, Oshima, Hoshino
  • Genres: Novel, Fiction, Speculative fiction, Magical Realism

General Summary:

Kafka on the Shore, a chef d’oeuvre of magic realism, is charged by two exceptional characters: a 15 year old teenager, Kafka Tamura (we never know his real name), who runs away from home trying to escape a gruesome oedipal prophecy or to fill his emptiness and search for his long-missing mother and sister; and an aging simpleton called Satoru Nakata (simply called Nakata), who never recovered from an accident that happened during his childhood.

Along the story, Nakata is drawn towards Kafka, for reasons he cannot comprehend. Kafka and Nakata’s journey, a mystery to them and to the readers, enriched by supernatural mesmerizing events. Cats and people carry on conversations, a ghostlike pimp employs a Henri Bergson-quoting prostitute (“The pure present is an ungraspable advance of the past devouring in the future. In truth, all sensation is already a memory”), a forest harbors soldiers apparently unaged since World War II, and rainstorms of fish fall from the sky. Apparently, the story also consist of a brutal murder, the identity of the victim and perpetrator shrouded in obscurity. In the end, we are left with answers which for me , like every good story-telling, leaves the reader with blank pages to fill with after we read. The destiny of Kafka and Nakata are gradually revealed, though they never meet each other physically.

Afterthoughts:

Murakami is special in a way that he creates this web of feelings tied to the environment of each character. We don’t always have answers of full understanding of his metaphors. But there is a sense of contemplativeness you get with the events he constructs. Sometimes it leaves you flowing in the space between his story, the sense is strong. Opening a Murakami is always like diving into the deep sea, when you emerge to the surface, you felt like you just had a magical experience, as if into a trance…often not sure yourself of everything you’ve just read. A master of story-telling, a rare artist who paints with words, who leaves us dreaming and spell-bounded.

Relatable Quotes:

  • “Even chance meetings are the result of karma.” …. “That things in life are fated by our previous lives. That even in the smallest events there’s no such thing as coincidence.”

 

  • “You’re really smart, aren’t you, Mimi?” Nakata said, impressed by the Siamese’s eloquence. “No, not really,” Mimi replied, narrowing her eyes in embarrassment. “I just spend too much time lying in front of the TV and this is what happens–my head gets full of worthless facts. Do you ever watch TV, Mr. Nakata?”

 

  • “There’s a void inside me, a blank that’s slowly expanding. I’m totally lost, my identity dying. There’s no direction where I am, no sky, no ground. I think of Miss Saeki, of Sakura, of Oshima. But I’m light years away from them. It’s like I’m looking through the wrong end of a pair of binoculars, and no matter how far I stretch out my hand, I can’t touch them. I’m all alone in the middle of a dim maze. Listen to the wind, Oshima told me. I listen, but no wind’s blowing. Even the boy named Crow has vanished.”

 

  • “Anyone who falls in love is searching for the missing pieces of themselves. So anyone who’s in love gets sad when they think of their lover. It’s like stepping back inside a room you have fond memories of, one you haven’t seen in a long time. It’s just a natural feeling.”

 

  • “Speaking of contradictions,” Oshima suddenly said, “when I first met you I felt a kind of contradiction in you. You’re seeking something, but at the same time running away for all you’re worth.” …. ‘What is it I’m seeking?”

 

  • Hoshino was drawn back to his childhood. He used to go to the river everyday to catch fish. Nothing to worry about back then, he reminisced. Just live each day as it came. As long as I was alive, I was something. That was just how it was. But somewhere along the line it all changed. Living turned me into nothing. Weird. . . . People are born in order to live, right? But the longer I’ve lived, the more I’ve lost what’s inside me–and ended up empty. And I bet the longer I live, the emptier, the more worthless, I’ll become. Something;’s wrong with this picture. Life isn’t supposed to turn out like this! Isn’t it possible to shift direction, to change where I’m headed?

 

  • Miss Saeki to Kafka: “If the flow is there, I figured I’d just let it carry me along where it wanted” Kafka to Miss Saeki: “I think you’re trying to make up for lost time.” She thinks about it for a while. “You may be right,” she says. “But how do you know that?” ….. “A lot of things were stolen from my childhood. Lots of important things. And now I have to get them back.” “In order to keep living” I nod. “I have to. People need a place they can go back to. There’s still time to make it, I think. For me, and for you.”

 

  • “Lift the burden from my shoulders and live–not caught up in someone else’s schemes, but as me. That’s what I really want.”