Shadows of Three A.M.

28.08.17

20170829_110202.jpg

 

2am-4am.

Fragments of dreams intertwined with reality. Sensation distorts perception.

There was a man, shadow or flesh, I was unsure, charcoal dark, he might as well was made from dark matter.

Standing on the left side of the window pane, he was staring blankly to the direction of nowhere. The window was open, cool Ubud air strips the warmth hug of the thick blanket over me. There was a fishing pole attached to some kind of hook. Outside my room is a half circle shaped fishpond. Dozens of tilapias, several sly catfishes, and one hungry lizard reside in the one metre deep pond. In the middle of the pond is a statue of Saraswati, the goddess of knowledge, with all her attributes. But there is no moon tonight. Everything is pitch dark. Like the man made from dark matter now standing by the window in my room. I was watching him. He too, was aware of my presence.

 

I knew he wasn’t fishing fishes, his goal instead is to fish me out of my deep sleep. He did caught me. I was wide awake by that time. Thick air in between. Dimensional distance. Eager to watch, hesistant to move or even ask questions.

Humidity creeps particles of vapor into my pores. Coldness that suck your bones out.

 

The man walked slowly to the door across the room, opened it, then walked out…

Silence. Mere silence that multiply seconds into minutes. Several faraway dogs barking and the birds on the coconut tree outside were actually squeaking loudly. As if signaling something suspicious is happening.

He didn’t come back.

The sudden emptiness I felt was strikingly haunting. My sensations was revolving around the man until he walked away, after fishing me from reality to dream.

(or is it the other way around?)

 

I drowned it again by sleeping.

It was just only 3am.

Tree ay am.

The cross-section in between everything beyond reality.

Fears, hopes, desires, dreams…

Tree ay am.

The time where human frequency is lowest and closest to ‘softer’ beings in this planet.

Where souls collide with spirits, dancing in the rythm of life’s paradoxes.

 

I woke up.

This time, inside that dream.

I woke up, looked out the window, found my body floating.

 

Somehow, I manage to pick myself up from the pond, dragging my body on my desk. It was full of bruises from slaps and cuts, still fresh…Faced down, all I can see is a brute hole on my back.  It even cuts off the titanium steel I had from scoliosis surgery. The hole was so wide. Three quarters of my back. It was deep, inside was like potions boiling. The ingredients: blood, flesh and organs.

Whirpool bubbling, swirling…imagine looking inside a running washing machine.

My essence evaporates from the cauldron.

 

It was weird not scary. Two steps back.

Still, I don’t want to get sucked in that thing. Another step back.

Then I was suddenly falling, rocket fast, the sensation you get like riding a roller-coaster, where your body pushes forward but your heart, still pounding, feels left behind.

I tried to close my eyes, and continued sleeping.

 

 

wake up in the right state of mind

where your footprints used to be

stroll along

through the path or not through the path

(it is yours to decide)

just don’t follow

where your shadow lands

Advertisements

Bagi cerita: pelecehan seksual

x

Senin, 5 Juni 2017

Pukul 10.40 malam, Jalan Raya Kengetan, depan Majapahit Gym.

 

Motor Supra, DK 5084 xx:

Gek, halo, kenalan dong.. Hai Gek, minta nomerne dadi?

 

Aku:

What the fuck is this guy doing, keep calm, just keep calm.

 

Motor Supra, DK 5084 xx:

Gek…Halo Gek..sombongne..

 

Sebelum aku sempat melaju lebih kencang atau menoleh kesamping dan mengucap kata, tangan busuk itu sudah meremas payudara kananku dan lalu pergi melaju kencang. 

Aku menarik gas dan tanpa pikir panjang mengejar bajingan itu. Amarah menjadi bahan bakar lakuku. Tak pernah aku semarah itu! Sekitar tujuh ratus meter kemudian, setelah tikungan depan Warung Nyoman Tebongkang, dia sudah jauh di depan dan aku merasa lemas, gemetar, tak berdaya untuk lanjut mengejar…

Bangsaaaaaaaaat ciii!!!” , teriakku ke bajingan itu. Pekatnya malam dan jarak melahap kata-kataku itu.

Lampu sein kunyalakan ke arah kiri. Apa yang baru saja terjadi? Posisi motorku agak miring, kuingat dengan tenaga yang seadanya, aku minggirkan lagi agar tak mengganggu lalu lintas. Apa kejadian itu benar benar terjadi? Seorang bajingan memeras payudaraku seakan mainan milik dia?

Aku lemas…handphone kupegang, satu persatu kuperhatikan lentik jari jemari bergetar.

Kuberhasil membuka lock-screen dan membuka aplikasi kontak. Kutelfon pacarku. Tak diangkat. Berkali-kali kutelfon dengan tangan yang gemetar. Mungkin dia ada di jalan atau handphonenya sedang disunyikan, jadi aku kirim beberapa pesan pertanda bahaya dan takut. Empat atau lima pesan.

Tanganku tak berfungsi dengan baik, otakku seperti kaset kusut, pandangan buram…

Aku berteriak, ingin sekali menangis tapi air mataku kering teruap emosi (kesal, amarah, sedih, campur-aduk). Merasa dihinakan, merasa bekas tangannya masih tertempel di dada kanan. Jijik sekali.

Aku tertunduk lemas, tak bisa melanjutkan perlajanan…Kutundukan kepala, kusilangkan tangan istirahat di atas spedometer motor. Tak tenang dengan situasi, kutengok depan belakang, kosong. Ada rasa takut muncul. Ingin melanjutkan perjalanan pulang yang tinggal 10 menit saja (sepuluh menit terpanjang menuju banjar Penestanan Kaja). Namun berat sekali, seluruh kekuatan gravitasi bumi seperti menekan di satu tempat itu.

Selang beberapa saat, seorang perempuan (yang ternyata dari Russia) memanggil, “Hi, please can you help me!” dari seberang jalan, sekitar 10 meter dibelakang. Aku menoleh kebelakang, apalagi ini kupikir… Ya karena hanya dia yang ada di jalan itu, dan karena aku ketakutan serta ada unsur merasa selamat menemukan perempuan lain yang sendirian, aku menghampirinya.

Sorry, I have been lost for more than 2 hours, I went around and around, please help me.

I am sorry…” aku menarik nafas panjang, lalu melanjutkan dengan keputusasaan,

Someone just sexually assaulted me!!! He touched my breasts and just ran off I tried to catch him but I can’t!

Oh god. Wait, your breast or bag?

“BREAST!!!”

Oh sorry, hmm, you know it’s lucky he didn’t take your bag”, Responnya sangat membuatku kesal. Bahkan aku rela tasku yang diambil bukan tubuhku, kehormatanku.

“Yes I know, but still he assaulted me!” Malas sekali berdebat dan tak ada energi juga tersisa untuk bercakap dengan perempuan Russia yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Please, I don’t know where to go, please, please can you show me the way to Mawang or share your internet please, I need to open the map

Aku masih ada tempat untuk merasa kasihan dengan dia. Pada akhirnya membagi sedikit data internet untuk dia mencari jalan pulang melalui peta. Dia lalu pergi dan aku bisa bergumul dengan keadaanku sendiri. Ternyata tidak selamanya ditemani dalam situasi setelah pelecehan itu menjadi lebih baik, jika orangnya tak bisa berempati. Pacarku lalu menelfon dan aku bisa sedikit ditenangkan. Aku lalu segera pulang, memilih melalui jalan Katiklantang-Penestanan bukan jalan raya Sayan.

Di perjalanan pulang, sempat ada beberapa laki-laki berkumpul dan cat-calling. Ya, seakan-akan aku disamakan dengan kucing yang lewat.

Aku kecewa!!! Susah sekali hidup jadi perempuan di pulau yang katanya surga dewata ini. Pulang saja merasa tak aman. 

Aku lebih takut pada manusia bejat daripada makhluk-makhluk lain yang tak kasat mata. Menyeramkan sekali bagaimana seorang manusia bisa menjadi setan dan melukai manusia lain (seringkali, dengan luka yang abadi).

 

Bahkan menulis ini rasanya aku ingin muntah.

Sampai kapan kecap tangannya akan terasa di dada kanan ini.

___________

Siapapun dapat mengalami pelecehan: tua, muda, perempuan, laki-laki, jangan bungkam. Jangan pernah merasa itu salah mu (yang salah otak pelaku pelecehan).

Jika disentuh kemaluan (penis/vagina), payudara tanpa ijinmu, dicium tanpa inginmu, apalagi diperkosa, tolong jangan bungkam.

Itu bukan salahmu.

Aku tahu banyak sekali cerita teman-teman yang dilecehkan sewaktu di sekolah, dan lebih memilih bungkam. Tolong, cerita, ke ibumu, bapakmu, pacarmu, sahabatmu dan alangkah baiknya gunakan keberanianmu untuk menulis di sosial media.

Tak seorangpun menghendaki pelecehan, apalagi pelecehan seksual. Tak ada alasan apapun yang dapat disebut mengundang pelecehan, apalagi melegitimasi pelecehan seksual.

Bukan salahmu.

___________

Pidato di Kubur Orang

Ia terlalu baik buat dunia ini.
Ketika gerombolan mendobrak pintu
Dan menjarah miliknya
Ia tinggal diam dan tidak mengadakan perlawanan.
Ketika gerombolan memukul muka
Dan mendopak dadanya
Ia tinggal diam dan tidak menanti pembalasan.
Ketika gerombolan menculik istri
Dan memperkosa anak gadisnya
Ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian.
Ketika gerombolan membakar rumahnya
Dan menembak kepalanya
Ia tinggal diam dan tidak mengucapkan penyesalan.
Ia terlalu baik buat dunia ini.

Subagio Sastrowardoyo

constant reminder to the cautious lover

Walk on my dear, hold his hands tightly

Love as if there’s no tomorrow

Do not take time for granted (if you take it for granted, there will be no moments)

For when the wind blows, it just flows 

(Hard, flock of birds flapping flight on the ripples of your breath

Soft, tickling the bamboo leaves, giggling)

Just be, my dear.

The cause and effects, all is taken care of.

 

____________________________________________

Sometimes fear creeps in, what is this does not work out?

“Who cares.”, Bear said bluntly.

“I care! I will be hurt, drowned, buried in the deepest trenches, broken to pieces and…”

“You have fought, you have loved, you have lived.” Bear whispers to my ears.