Bagi cerita: pelecehan seksual

x

Senin, 5 Juni 2017

Pukul 10.40 malam, Jalan Raya Kengetan, depan Majapahit Gym.

 

Motor Supra, DK 5084 xx:

Gek, halo, kenalan dong.. Hai Gek, minta nomerne dadi?

 

Aku:

What the fuck is this guy doing, keep calm, just keep calm.

 

Motor Supra, DK 5084 xx:

Gek…Halo Gek..sombongne..

 

Sebelum aku sempat melaju lebih kencang atau menoleh kesamping dan mengucap kata, tangan busuk itu sudah meremas payudara kananku dan lalu pergi melaju kencang. 

Aku menarik gas dan tanpa pikir panjang mengejar bajingan itu. Amarah menjadi bahan bakar lakuku. Tak pernah aku semarah itu! Sekitar tujuh ratus meter kemudian, setelah tikungan depan Warung Nyoman Tebongkang, dia sudah jauh di depan dan aku merasa lemas, gemetar, tak berdaya untuk lanjut mengejar…

Bangsaaaaaaaaat ciii!!!” , teriakku ke bajingan itu. Pekatnya malam dan jarak melahap kata-kataku itu.

Lampu sein kunyalakan ke arah kiri. Apa yang baru saja terjadi? Posisi motorku agak miring, kuingat dengan tenaga yang seadanya, aku minggirkan lagi agar tak mengganggu lalu lintas. Apa kejadian itu benar benar terjadi? Seorang bajingan memeras payudaraku seakan mainan milik dia?

Aku lemas…handphone kupegang, satu persatu kuperhatikan lentik jari jemari bergetar.

Kuberhasil membuka lock-screen dan membuka aplikasi kontak. Kutelfon pacarku. Tak diangkat. Berkali-kali kutelfon dengan tangan yang gemetar. Mungkin dia ada di jalan atau handphonenya sedang disunyikan, jadi aku kirim beberapa pesan pertanda bahaya dan takut. Empat atau lima pesan.

Tanganku tak berfungsi dengan baik, otakku seperti kaset kusut, pandangan buram…

Aku berteriak, ingin sekali menangis tapi air mataku kering teruap emosi (kesal, amarah, sedih, campur-aduk). Merasa dihinakan, merasa bekas tangannya masih tertempel di dada kanan. Jijik sekali.

Aku tertunduk lemas, tak bisa melanjutkan perlajanan…Kutundukan kepala, kusilangkan tangan istirahat di atas spedometer motor. Tak tenang dengan situasi, kutengok depan belakang, kosong. Ada rasa takut muncul. Ingin melanjutkan perjalanan pulang yang tinggal 10 menit saja (sepuluh menit terpanjang menuju banjar Penestanan Kaja). Namun berat sekali, seluruh kekuatan gravitasi bumi seperti menekan di satu tempat itu.

Selang beberapa saat, seorang perempuan (yang ternyata dari Russia) memanggil, “Hi, please can you help me!” dari seberang jalan, sekitar 10 meter dibelakang. Aku menoleh kebelakang, apalagi ini kupikir… Ya karena hanya dia yang ada di jalan itu, dan karena aku ketakutan serta ada unsur merasa selamat menemukan perempuan lain yang sendirian, aku menghampirinya.

Sorry, I have been lost for more than 2 hours, I went around and around, please help me.

I am sorry…” aku menarik nafas panjang, lalu melanjutkan dengan keputusasaan,

Someone just sexually assaulted me!!! He touched my breasts and just ran off I tried to catch him but I can’t!

Oh god. Wait, your breast or bag?

“BREAST!!!”

Oh sorry, hmm, you know it’s lucky he didn’t take your bag”, Responnya sangat membuatku kesal. Bahkan aku rela tasku yang diambil bukan tubuhku, kehormatanku.

“Yes I know, but still he assaulted me!” Malas sekali berdebat dan tak ada energi juga tersisa untuk bercakap dengan perempuan Russia yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Please, I don’t know where to go, please, please can you show me the way to Mawang or share your internet please, I need to open the map

Aku masih ada tempat untuk merasa kasihan dengan dia. Pada akhirnya membagi sedikit data internet untuk dia mencari jalan pulang melalui peta. Dia lalu pergi dan aku bisa bergumul dengan keadaanku sendiri. Ternyata tidak selamanya ditemani dalam situasi setelah pelecehan itu menjadi lebih baik, jika orangnya tak bisa berempati. Pacarku lalu menelfon dan aku bisa sedikit ditenangkan. Aku lalu segera pulang, memilih melalui jalan Katiklantang-Penestanan bukan jalan raya Sayan.

Di perjalanan pulang, sempat ada beberapa laki-laki berkumpul dan cat-calling. Ya, seakan-akan aku disamakan dengan kucing yang lewat.

Aku kecewa!!! Susah sekali hidup jadi perempuan di pulau yang katanya surga dewata ini. Pulang saja merasa tak aman. 

Aku lebih takut pada manusia bejat daripada makhluk-makhluk lain yang tak kasat mata. Menyeramkan sekali bagaimana seorang manusia bisa menjadi setan dan melukai manusia lain (seringkali, dengan luka yang abadi).

 

Bahkan menulis ini rasanya aku ingin muntah.

Sampai kapan kecap tangannya akan terasa di dada kanan ini.

___________

Siapapun dapat mengalami pelecehan: tua, muda, perempuan, laki-laki, jangan bungkam. Jangan pernah merasa itu salah mu (yang salah otak pelaku pelecehan).

Jika disentuh kemaluan (penis/vagina), payudara tanpa ijinmu, dicium tanpa inginmu, apalagi diperkosa, tolong jangan bungkam.

Itu bukan salahmu.

Aku tahu banyak sekali cerita teman-teman yang dilecehkan sewaktu di sekolah, dan lebih memilih bungkam. Tolong, cerita, ke ibumu, bapakmu, pacarmu, sahabatmu dan alangkah baiknya gunakan keberanianmu untuk menulis di sosial media.

Tak seorangpun menghendaki pelecehan, apalagi pelecehan seksual. Tak ada alasan apapun yang dapat disebut mengundang pelecehan, apalagi melegitimasi pelecehan seksual.

Bukan salahmu.

___________

Pidato di Kubur Orang

Ia terlalu baik buat dunia ini.
Ketika gerombolan mendobrak pintu
Dan menjarah miliknya
Ia tinggal diam dan tidak mengadakan perlawanan.
Ketika gerombolan memukul muka
Dan mendopak dadanya
Ia tinggal diam dan tidak menanti pembalasan.
Ketika gerombolan menculik istri
Dan memperkosa anak gadisnya
Ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian.
Ketika gerombolan membakar rumahnya
Dan menembak kepalanya
Ia tinggal diam dan tidak mengucapkan penyesalan.
Ia terlalu baik buat dunia ini.

Subagio Sastrowardoyo

constant reminder to the cautious lover

Walk on my dear, hold his hands tightly

Love as if there’s no tomorrow

Do not take time for granted (if you take it for granted, there will be no moments)

For when the wind blows, it just flows 

(Hard, flock of birds flapping flight on the ripples of your breath

Soft, tickling the bamboo leaves, giggling)

Just be, my dear.

The cause and effects, all is taken care of.

 

____________________________________________

Sometimes fear creeps in, what is this does not work out?

“Who cares.”, Bear said bluntly.

“I care! I will be hurt, drowned, buried in the deepest trenches, broken to pieces and…”

“You have fought, you have loved, you have lived.” Bear whispers to my ears.